Latest News

Sindikat Saracen Dibekuk, Siapa Pemesannya dan Berapa Harga Kontennya?



saracen



Jaringan penebar kebencian lewat media sosial, Saracen, telah ditangkap para pelakunya oleh polisi. Mereka diduga menjadi salah satu pihak yang bertanggungjawab atas munculnya ujaran kebencian (hate speech), termasuk SARA, terutama melalui media soaial Facebook. Tiga pelaku yang telah ditangkap adalah Jasriadi (32), Muhammad Faizal Tanong (43), dan Sri Rahayu Ningsih (32).



Masing-masing pelaku memiliki tugas berbeda. Jasriadi ada ketua kelompok. Sementara Faizal bertindak sebagai koordinator bidang media dan indformasi. Sri menjadi koordinator grup wilayah. Mereka menawarkan produk konten hate speech dengan menggunakan proposal kepada pihak yang memerlukan.



“Mereka menyiapkan proposal. Dalam satu proposal yang kami temukan, itu kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta rupiah,” kata Irwan Anwar selaku Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, seperti dikutip laman Liputan6.



Meski demikian, siapa saja yang telah memesan konten ujaran kebencian pada Saracen masih terus didalami kepolisian. Pelaku lebih tertutup untuk urusan nama kliennya. Semua tersanga sulit untuk dimintai keterangan tentang itu.



“Termasuk, siapa yang selama ini pesan, memang yang bersangkutan sangat tertutup. Beberapa tersangka ini juga sulit kita mintai keterangan,” tutur Kombes Pol Awi Setiyono selaku Kabag Mitra Biro Penmas Divisi Humas Polri.



Sindikat Saracen mempunyai banyak sekali akun, hingga mencapai ribuan. Masing-masing pelaku saling membagi pekerjaan dalam mengunggah konten suatu isu hangat, baik pro atau pun kontra.



“Misalnya kurang lebih 2.000 akun itu dia membuat meme menjelek-jelekkan Islam, ribuan lagi kurang lebih hampir 2.000 juga menjelek-jelekkan Kristen. Itu yang kemudian tergantung pemesanan,” jelas Irwan.



Sementara itu menurut Awi, harga proposal dari Saracen bisa dibanderol setidaknya Rp 72 juta. Beberapa item penggunaan dananya yatu Rp 15 juta bagi pembuat website, dan Rp 45 juta sebagai upah para buzzer yang kurang lebih ada 15 orang untuk bekerja selama sebulan.  Sebagai ketua, Jasriadi minta upah Rp 10 juta dan bertugas mengunggah postingan berbau SARA. Sisa dana akan dipakai untuk dana lain-lain.



Tapi polisi tidak langsung memercayai proposal yang ditemukan. Semua masih akan didalami. Pada cost terakhir dari proposal disebutkan ada dana yang diberkan untuk wartawan.



“Itu kan proposalnya dia yang kita temukan. Tapi belum tentu kan. Itu yang perlu proses pendalaman. Kita tidak percaya begitu saja. Kalau dia tulis begitu, apa kita langsung percaya? Teman-teman wartawan dirugikan juga toh. Itu temuan-temuan,” kata Awi.





























































































































































































































































































































































































































































































































قالب وردپرس

0 Response to "Sindikat Saracen Dibekuk, Siapa Pemesannya dan Berapa Harga Kontennya?"